Tampilkan postingan dengan label Banjarmasin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Banjarmasin. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 November 2013

Pasar Terapung, Dulu, Sekarang, dan Nanti



Sekilas tentang Pasar Terapung
Pasar Terapung atau apapun nama lainnya, hampir bisa ditemukan di seluruh wilayah Indonesia, terutama pada kota-kota yang dilalui oleh sebuah sungai besar, bahkan pasar jenis ini bisa ditemukan juga dinegara lainnya di Asia seperti, Thailan, China, Filipina, dan Malaysia

Selamat Datang di Pasar Terapung

Sunset di Muara Sungai Kuin

Perkiraan terbentuknya Pasar Tradisional Terapung dalam konten tulisan ini lebih ditujukan kepada Pasar Tradisional Terapung yang terdapat di Kota Banjarmasin

Pasar Terapung terjadi secara alamiah, karena adanya beberapa kondisi setempat yang saling menunjang, seperti

-Tersedianya tempat (sungai) yang mudah didatangi
-Tersedianya perahu sebagai alat tranportasi utama  
-Adanya komoditi yang bisa diperdagangkan 
-Adanya Penjual, Pembeli, dan penggembira
-Ditempat itu belum tersedia sarana jalan atau jembatan yang memadai

Pasar Terapung secara harfiah bisa diartikan sebagai tempat bertemunya antara Penjual dan Pembeli pada suatu tempat (sungai), perahu atau sampan sebagai sarana transportasi utamanya

Pada suatu saat, jika ditempat itu telah tersedia jalan dan jembatan serta sarana pendukung lainnya, maka diperkirakan Pasar Tradisional Terapung akan hilang dengan sendirinya atau paling tidak akan bergeser lebih kehulu dari bagian sungai yang ditempatinya sekarang

Dengan kata lain keberadaan Pasar Terapung nantinya bakal tergerus secara alami oleh arus modernisasi

Bisa jadi, Pendapat diatas salah !  Mengapa?  

Seiring dengan berjalannya waktu, keberadaan “Pasar Terapung Tradisional” sangat dimungkinkan sekali akan berubah menjadi sebuah “Pasar Terapung (yang dikelola oleh) Pemerintah” artinya, dimungkinkan adanya campur tangan Pemerintah Daerah yang mengatur, menata, dan mengelola Pasar Terapung sebagai salah satu asset Wisata Daerah yang harus dilestarikan keberadaannya


Hak Cipta Pasar Terapung
Pasar Terapung pada awalnya adalah sebuah Pasar Tradisional biasa, bukanlah sebuah Objek Wisata, maka dari itu keberadaannya tidak bisa diklaim sebagai sebuah objek wisata milik daerah tertentu


Yang paling masuk diakal adalah adanya “kejelian” Pemerintah Daerah Banjarmasin dalam melihat potensi dan peluang keberadaan Pasar Tradisional ini untuk kemajuan dan perkembangan pariwisata di Kalimantan Selatan

Pasar Terapung memiliki nilai jual dan jika dipromosikan dengan baik, dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke daerah

Dampak positip untuk daerah, Adanya aliran uang masuk (Devisa Daerah) berupa Perbelanjaan untuk Penerbangan, Hotel dan Penginapan, Alat Transportasi Lokal, serta Pembelian Barang untuk Souvenir dan Makanan

Hal yang perlu diperhatikan dalam berpromosi adalah,
"Tidak muluk"  Apa adanya sesuai dengan kenyataan (jangan melebih-lebihkan) agar pengunjung yang datang tidak kecewa, kemudian berpotensi menyebarkan berita yang kurang baik      


Lokasi Pasar Terapung
Ada tiga tempat Pasar Terapung yang dapat dikunjungi        
1. Pasar Terapung di Muara Sungai Kuin
2. Pasar Terapung di Desa Lok Baintan, dan
3. Pasar Terapung di Jalan Sungai Mesa
Tiga tempat tersebut, masing-masing mempunyai keunikan dan kelebihan tersendiri

Pasar Terapung yang berada di Muara Kuin hanya dapat didatangi dengan kendaraan air (Perahu Motor)


Kelebihannya, Pasar Terapung ini adalah yang tertua di Banjarmasin, letaknya berdekatan dengan tempat wisata lain seperti, Wisata Pulau Kembang, dan Wisata Syariah Masjid Sultan Suriansyah serta Pemakaman Keluarga Sultan Banjar

Pasar Terapung yang terletak di desa Lok Baintan dapat didatangi dengan Kendaraan Darat maupun Kendaraan Air,
Pengunjung biasanya lebih suka menggunakan kendaraan air, karena jalanan darat untuk menuju ke Desa Lok Baintan ini masih kurang baik


Kelebihannya, Disini masih bisa dilihat keberadaan dua buah jembatan gantung yang melintas diatas Sungai Martapura, jembatan model begini sudah mulai langka di Banjarmasin

Pasar Terapung yang ada di Jalan Sungai Mesa bisa didatangi dengan kendaraan apa saja, karena letaknya berada ditengah kota 
(Tempatnya berseberangan dengan Kantor Gubernur) tetapi Pasar Terapung ini hanya ada (dibuka) pada hari Minggu pagi saja


Kelebihannya, Tempatnya mudah dijangkau, biayanya relatif lebih murah (karena tidak perlu menyewa perahu motor), dan biasanya ditempat ini selalu ada pertunjukan gratis berupa Musik Dangdut dan Musik Panting

Perahu Motor (Klotok) yang dapat disewa untuk menuju ke Pasar Terapung bisa ditemukan dipusat kota, diseputaran Jembatan Antasari, Jembatan Merdeka, Jembatan Pasar Lama, dan Jembatan Banua Anyar, harga sewanya dari pusat kota relatif lebih mahal karena jaraknya ke Pasar Terapung lumayan jauh

Jembatan Gantung di Desa Sungai Lulut


Rute ke Pasar Terapung
Untuk menghemat biaya, sebaiknya menyewa perahu motor (Klotok) ditempat yang berdekatan dengan lokasi Pasar Terapung yang akan dituju

Harga sewa Perahu Klotok berkisar antara 200 sd 250K (pulang pergi), harga ini jauh lebih murah ketimbang menyewa perahu motornya dimulai dari pusat kota

Lain lagi ceriteranya, Jika Anda ingin menikmati pemandangan dipinggiran sungai atau ingin melihat rutinitas penduduk tepian Sungai Martapura pada pagi hari, Anda bisa mulai naik perahu motor dari pusat kota 

Ilustrasi 1, Jika Mau ke Pasar Terapung di Muara Sungai Kuin, Anda bisa datang dengan mobil atau motor ke ujung Jalan Kuin Utara, atau Jalan Kuin Selatan, atau ke ujung Jalan Belitung, kemudian dari sini mulai menyewa perahu motor (banyak terpampang baliho dan tulisan Persewaan perahu motor dipinggir jalan)   

Ilustrasi 2, Jika mau ke Pasar Terapung Lok Baintan, Anda bisa datang dengan mobil atau motor kepasar yang ada di Desa Sungai Lulut, dari sini mulai menyewa perahu motor, Pasar Desa Sungai Lulut dapat didatangi dari dua arah (dari Jl Pramuka atau dari Jalan Veteran)

Ilustrasi 3, Jika mau ke Pasar Terapung di Jalan Sungai Mesa, Anda bisa datang dengan mobil atau motor melalui ujung sebelah timur Jembatan Pasar Lama atau dari sisi timur Jembatan Merdeka


Tips lainnya
Sehari sebelum keberangkatan sebaiknya survey dulu ke tempat persewaan perahu motor, buat kesepakatan waktu dan harganya, kemudian catat nomer seluler operator perahu motornya, agar ada kepastian untuk mendapatkan perahu motor, karena pada hari Minggu dan Musim Liburan terkadang perahu motor yang ada, tidak mencukupi (Tidak direkomendasi untuk membayar DP)

Hari terbaik untuk melihat Pasar Terapung ini adalah pada Hari Minggu, sedangkan waktu terbaiknya antara pukul  05.30 sd 09.00


Jika cuaca tidak mendung atau hujan, Saya lebih suka hunting sunrise dilokasi ini, selebihnya adalah mencicipi jajanan tradisional yang banyak dijajakan, sambil menikmati riuhnya suasana pasar diatas sungai

Selamat berwisata, dan dapatkan pengalaman yang unik !




Senin, 23 September 2013

Masjid Sultan Suriansyah



Masjid Sultan Suriansyah yang didirikan pada awal abad 16, berada ditengah pemukiman penduduk, dibangun pada sisi utara Sungai Kuin, terletak di Jl. Kuin Utara, Kelurahan Pangeran, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kalimantan Selatan









Bentuk bangunan “Masjid Pertama”  yang didirikan di Kota Banjarmasin ini terlihat unik dan indah serta terkesan kuno, hampir pada sebagian besar dinding maupun ornamen (kaligrafi) yang terdapat pada masjid ini didominasi oleh warna hijau dan kuning

Diawal pembangunannya masjid ini dibuat dengan ukuran panjang dan lebar sekitar 16 x 16 Meter, seluruh tiang, lantai, maupun dindingnya berbahan dasar kayu lokal

Sebuah bangunan “panggung” (model bangunan yang biasa dibuat pada lahan yang rendah, atau pada lahan rawa, dengan banyak tiang pada bagian bawahnya)

Dalam perjalanan waktu, masjid ini telah beberapa kali mengalami perbaikan dan rehabilitasi karena pada beberapa bagiannya telah ada yang lapuk dimakan usia

Perbaikan dilakukan, dengan  tetap mempertahankan ciri khas dan bentuk yang dimiliki oleh bangunan masjid ini seperti pada awal pembangunannya








Keberadaan masjid ini merupakan bukti sejarah, awal masuknya agama islam pada abad 16 yang lalu di daerah Banjarmasin, yang pada kemudian hari, berkembang dan menyebar keseluruh wilayah Kalimantan Selatan dan juga ke propinsi tetangganya

Nama masjid ini diambil dari nama Sultan Kerajaan Banjar yaitu Sultan Suriansyah, Beliau ini adalah Raja Banjar pertama yang beragama Islam

Untuk orang luar daerah Banjarmasin, mungkin belum banyak yang mengetahui siapa gerangan Sultan Banjar yang bernama Suriansyah ini

Ringkasan Sejarah, (merupakan kilas balik ceritera perjalanan panjang Pangeran Samudera dalam menjalani takdirNYA untuk menjadi seorang muslim)

Nama Beliau sebelum memeluk agama Islam adalah Pangeran Samudera, kadang disebut juga Raden Samudera, merupakan cucu dari Raja di Kerajaan Daha yang bernama Sukarama

Setelah Raja Sukarama mangkat, pemerintahan dikuasai oleh anak sulungnya yang bernama Pangeran Mangkubumi

Dalam Surat Wasiat Raja Sukarama, disebutkan bahwa jika Beliau telah tiada, maka tahta akan diberikan kepada cucunya (Pangeran Samudera)

Kemudian terjadilah konflik di keluarga kerajaan, yang berujung dengan tewasnya Pangeran Mangkubumi yang dibunuh oleh adik kandungnya sendiri, Pangeran Temanggung

Merasa kurang aman, Pangeran Samudera dan pengikutnya kemudian mengungsi ke Hilir Sungai (Kuin Sekarang)

Masyarakat Kuin yang mengetahui bahwa  Pangeran Samudera adalah pewaris yang berhak atas tahta Kerajaan Daha, kemudian mendaulat Beliau menjadi Raja Kuin

Pada masa itu di Kalimantan Selatan terdapat dua buah kerajaan yaitu Kerajaan yang berpusat di Hulu Sungai (Kerajaan Daha, Pangeran Temanggung) dan di Hilir Sungai (Kerajaan Kuin, Pangeran Samudera)

Konflik antar dua kerajaan ini terus berlanjut, bahkan menjadi perang saudara, karena merasa terdesak, Pangeran Samudera mengirim utusan ke Kerajaan Demak di Jawa tengah untuk meminta bantuan

Raja Demak pada waktu itu (Sultan Trenggono) bersedia membantu Pangeran Samudera, dengan syarat Pangeran Samudera harus masuk Islam, jika peperangan nantinya dimenangkan oleh Kerajaan Kuin

Pangeran Samudera menyetujui syarat tersebut, maka Raja Demak,  mengutus Khatib Dayyan dan pasukannya untuk memerangi Kerajaan Daha

Perang selesai dengan kemenangan dipihak Kerajaan Kuin, Pangeran Samudera memenuhi janjinya untuk masuk Islam, lalu diikuti oleh keluarga kerajaan, kemudian Beliau mengganti namanya menjadi “Suriansyah”

Setelah beragama Islam, Sultan bersama dengan Khatib Dayyan dibantu oleh rakyatnya mulai membangun Masjid Pertama di Kerajaan Kuin

Mungkin  ada yang bertanya, Siapakah Panglima Perang yang bernama Khatib Dayyan yang telah diutus oleh Sultan Trenggono untuk membantu Pangeran Samudera?

Beliau adalah salah satu dari cucu buyut Sunan Gunung Jati, Nama asli beliau adalah Syeh Syarif Abdurrahman, tetapi lebih dikenal dengan nama Khatib Dayyan

Tidak jauh dari lokasi masjid ini, sekitar 200 Meter kearah barat dari masjid, terdapat tempat Pemakaman Keluarga Kesultanan Banjar





Ditempat inilah dimakamkan Sultan Suriansyah, Permaisuri, beberapa keturunannya, Khatib Dayyan, dan tokoh penting lainnya

Selain untuk tempat pemakaman keluarga kerajaan, ditempat ini juga dibangun sebuah museum kecil dengan nama Museum Makam Sultan Suriansyah



 
Isi museum ini diantaranya adalah, Foto-foto keluarga kerajaan, Daftar silsilah keluarga, Keramik, Senjata Tradisional, dan Busana tempo dulu

Bagi pengunjung dari luar kota yang ingin berkunjung kesini, dapat menggunakan  Taxi Kota (Argo) maupun mobil charter, yang bisa ditemukan disekitar hotel tempat Anda menginap

Alternatif lain adalah menggunakan jasa ojek (jika datang sendirian), jika datang berkelompok  bisa menggunakan Angkutan Kota Jurusan ke Kayutangi, kemudian minta diantarkan ke lokasi masjid, dengan memberikan sedikit biaya tambahan

Informasi lainnya, Kawasan Wisata Syariah ini tidak berjauhan letaknya dengan tempat wisata lain seperti, Pasar Terapung, dan Wisata Pulau kembang

Disepanjang bantaran Sungai Kuin ini, mudah ditemukan tempat persewaan perahu motor yang dapat disewa untuk mengantarkan pengunjung menuju tempat wisata tersebut




Jumat, 08 Februari 2013

Masjid Raya Sabilal Muhtadin


Bermula dari usulan seorang teman yang menyarankan agar Saya tidak hanya menulis keberadaan masjid-masjid diluar daerah, tetapi tulislah keberadaan masjid didaerah sendiri

Di Kalimantan Selatan, banyak terdapat Masjid besar dan bersejarah, dan sepertinya pantas untuk ditulis dan diperkenalkan kepada masyarakat luar

Jika dilihat dari Interior, Eksterior, dan Nilai Historis, Masjid-masjid di Kalimantan tentunya tidak kalah menariknya dibanding dengan masjid yang ada didaerah lain

Setelah ditimbang-timbang, ada benarnya juga usulan teman tersebut, tulisan mengenai keberadaan masjid lokal di Kalimantan Selatan ini Saya awali dengan memperkenalkan "Masjid Raya Sabilal Muhtadin"


Masjid Raya Sabilal Muhtadin
Masjid Raya Sabilal Muhtadin dilihat dari sisi barat

Masjid Raya Sabilal Muhtadin, terletak di tepian barat Sungai Martapura, dibangun pada sisi jalan protokol ditengah kota Banjarmasin, luas total area sekitar 10 Ha, dengan daya tampung jamaah sekitar 15.000 orang

Masjid Raya Sabilal Muhtadin termasuk Masjid terbesar kedua di Pulau Kalimantan, setelah Islamic Center di Samarinda, Kalimantan Timur

Masjid ini mulai dibangun sejak tahun 1964, sempat terhenti karena kondisi kenegaraan pada waktu itu (September 1965), dan dimulai lagi pembangunannya pada tahun 1974, dan akhirnya dapat dirampungkan pada awal tahun 1981

Masjid Raya ini kemudian diresmikan penggunaannya untuk umum pada 09 Februari 1981 oleh Presiden RI, dan diberi nama “Sabilal Muhtadin” 

Pemilihan nama Sabilal Muhtadin untuk Masjid Raya ini, diambil dari nama sebuah kitab yang berjudul Sabilal Muhtadin, sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan masyarakat Banjarmasin kepada Ulama Besar asal Kalimantan Selatan, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, Beliau ini adalah Penulis dari Kitab Sabilal Muhtadin tersebut

Dimasa hidupnya (1710-1812), Beliau inilah yang memperdalam dan mengembangkan agama Islam diwilayah Kesultanan Banjar atau yang kita kenal Kalimantan Selatan sekarang ini

Menjelang waktu Sholat Maghrib

Buka puasa bersama dibulan Romadhon

Bangunan Masjid di Kalimantan atau di mana pun itu, umumnya memiliki ciri dan ragam yang beraneka, baik itu bentuk bangunannya maupun aksesori yang dipajang pada bagian dalam dan luar masjid, dan biasanya selalu dipadupadankan dengan kebudayaan setempat

Namun tujuan utamanya tetap sama, yaitu masjid sebagai tempat untuk melaksanakan ibadah bagi warga muslim

Bangunan Masjid Raya Sabilal Muhtadin terlihat indah dan anggun, berupa sebuah bangunan besar dan megah, yang pada masing-masing sudutnya terdapat menara 

Selain bangunan masjid tadi, terdapat pula beberapa bangunan lainnya yang digunakan untuk perkantoran, perpustakaan, sarana pendidikan, yang dibuat terpisah dari bangunan masjid

Bangunan utama masjid luasnya 5.250 M2, yang dibagi menjadi dua bagian, ruang bagian dalam pada lantai satu masjid 3.250 M2 dan ruang dalam pada lantai dua 2.000 M2  

Ada sebuah menara besar yang dibuat pada bagian sebelah kiri halaman masjid dengan tinggi 45 Meter, ada tambahan empat buah menara kecil pada bagian lain masjid yang tingginya masing-masing 21 Meter.  

Pada bagian atas bangunan masjid, terdapat kubah besar dengan garis tengah 38 Meter, yang terbuat dari bahan aluminium sheet kalcolour berwarna keemasan yang ditopang oleh kerangka baja

Bangunan Serbaguna
Sarana pendidikan untuk usia dini
Sarana pendidikan untuk SD, SMP dan SMU

Sisi lain dari Masjid Sabilal Muhtadin

Secara fisik, bangunan Masjid Raya Sabilal Muhtadin dan sarana pendukungnya sangat memenuhi syarat, jika dilihat dari segi tantangan fungsinya pada kurun waktu mendatang

Tersedia ruang yang luas dan bersih, untuk tempat umat Islam melaksanakan ibadahnya

Tersedia Ruang Perpustakaan, Perkantoran, Sarana Pendidikan, dan ruang serba guna

Tersedia lahan terbuka yang luas, untuk menampung jamaah yang tidak kebagian tempat didalam masjid (untuk pelaksanaan sholat Iedul Fitri dan Iedul Adha), dapat juga digunakan untuk area parkir kendaraan

Tersedia ruang hijau yang luas, sebagai pelindung dan penyejuk udara, dan dapat berfungsi juga sebagai taman hutan kota sekaligus sebagai paru-paru kota
Masjid Raya Sabilal Muhtadin, dilihat dari sebelah timur
Hanya satu kalimat untuk masjid ini, ”Masjid Raya Sabilal Muhtadin, adalah Masjid kebanggaan warga Kalimantan Selatan”


Artikel lain mengenai Masjid,  Masjid Jiranah



Jumat, 01 Juni 2012

Waduk Riam Kanan, Syurga yang tersembunyi?


Waduk Riam Kanan, Sebelumnya lebih dikenal sebagai Pusat Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) terletak di Desa Aranio, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan


Desa Pinus, Aranio di Tepian Waduk


Satu objek Wisata alam (baru) yang terbentuk kemudian, setelah didaerah ini dibangun Pembangkit Tenaga Listrik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kalimantan Selatan

Untuk kepentingan mega proyek tersebut, tercatat  ada Sembilan buah desa yang tenggelam (ditenggelamkan ?), akibat dibendungnya delapan daerah aliran sungai (DAS) yang terdapat diwilayah itu

Fungsi utama waduk ini adalah, Sebagai sumber air untuk menggerakan turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)

Manfaat lainnya adalah, Sebagai habitat dan Pusat Penelitian berbagai jenis ikan sungai, untuk tempat pemeliharaan dan pembesaran ikan didalam karamba, untuk tempat pemancingan, dan sekaligus juga sebagai tempat wisata



Budidaya ikan sungai


Waduk Riam Kanan merupakan sebuah  syurga yang tersembunyi yang belum banyak diketahui oleh orang luar, mungkin karena kurangnya promosi sehingga keberadaannya lebih banyak diketahui oleh warga lokal saja

Waduk seluas sekitar 8000 Hektar ini masih termasuk didalam kawasan Hutan Lindung Sultan Adam, Airnya berwarna hijau kebiruan, dan pada beberapa bagian pantainya terdapat perbukitan yang ditumbuhi oleh padang rumput serta berbagai macam pohon besar



Matahari Tenggelam (Sunset)


View cantik nan mempesona, yang dapat membuat siapapun berdecak kagum ketika melihat keindahan dan keunikan yang dimilikinya

Tempat ini terletak 65 Km disebelah Tenggara kota Banjarmasin, kondisi jalan untuk menuju ke waduk umumnya baik, dan dapat dilewati oleh kendaraan bermotor

Tempat untuk berwisata ini cukup baik dan aman, penduduk setempat umumnya ramah dengan pendatang, disini tersedia juga warung kecil yang menjual makanan, minuman dan segala macam kebutuhan sehari-hari



Perahu bermotor (Klotok)


Disini tersedia Angkutan Umum Pedesaan untuk mengangkut hasil pertanian dan penumpang, Tetapi untuk lebih dapat menghemat waktu, sebaiknya datang kesini menggunakan kendaraan sendiri

Pengunjung yang ingin mengelilingi waduk, dapat menyewa Perahu Motor dengan harga sekitar 250 ribu rupiah perhari

Untuk pengunjung dari luar daerah yang memerlukan Hotel, Penginapan, dan Persewaan Kendaraan, dapat mencarinya sendiri dikota Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura, dan di seputaran Bandar Udara Syamsudin Noor

Jadwalkan liburan Anda bersama keluarga untuk datang kesini, Murah, Aman dan Nyaman

"Jangan membuang dan meninggalkan sampah apapun diwaduk ini"


Baca juga Artikel lain 

Taman Wisata Borneo Life

Pantai Takisung, Kalimantan Selatan