Jumat, 27 Juli 2012

Taman Wisata Borneo Life

Mau melihat buaya (Crocodylidae) dialam bebas? 
Pasti diperlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit, belum lagi ada kemungkinan mendapat halangan dan bahaya yang tidak diharapkan

Dari pada memboroskan waktu dan tenaga, dan juga tidak ada garansi dapat melihat buaya tersebut di alam bebas, maka Saya putuskan untuk melihat buaya ditempat penangkarannya saja

Untuk memenuhi keinginan tersebut, Saya berangkat ke Balikpapan, Kalimantan Timur, dikota ini terdapat tempat penangkaran buaya yang dimiliki oleh perorangan dan boleh dikunjungi oleh umum dengan membayar tiket masuk

Nama tempat penangkaran tersebut adalah Taman Wisata Borneo Life  terletak di Manggar (Teritip) 27 Km sebelah timur kota Balikpapan, akses jalan untuk menuju tempat ini lumayan baik dan dapat didatangi dengan kendaraan umum maupun pribadi





Sepengetahuan Saya, di Pulau Kalimantan ini, ada lima tempat penangkaran buaya, (Balikpapan, Samarinda, Tanjung Redeb, Tarakan, dan Batulicin) dan mungkin saja terdapat juga diwilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah

Keberadaan Taman Wisata Borneo Life sudah ada sejak tahun 2000 lalu, dan saat ini memiliki sekitar 1.500 ekor buaya dengan berbagai ukuran

Peternakan ini dikembangkan secara intens dengan campur tangan manusia sehingga tingkat keberhasilan hidup buaya tersebut sejak menetas sampai menjadi dewasa mencapai 90 persen lebih

Bandingkan dengan keberhasilan tingkat hidup Buaya di alam bebas, sejak menetas dari telurnya sampai menjadi buaya dewasa, paling banyak kurang dari 10 persen saja yang dapat survive, karena adanya predator dan ulah sebagian orang yang melakukan penangkapan secara illegal

Setelah membayar tiket masuk sebesar 5 ribu rupiah, Saya memasuki peternakan buaya tersebut, Luas seluruh lahan Borneo Life sekitar 10 Ha, dan lahan yang telah terpakai untuk penangkaran buaya kurang lebih 1 Ha, sisanya untuk penghijauan, bangunan, dan jalanan

Jalan masuk utama untuk pengunjung selebar 6 x 60 Meter, disamping kanan dan kiri jalan tersebut terdapat kolam berisi buaya yang ditempatkan didalam beberapa kandang beton berpagar kawat dengan ukuran 10 x 10 Meter yang berisi buaya sekitar 15 sd 20 ekor per kandangnya

Pengunjung yang datang dapat melihat buaya tersebut dari sebuah lorong atau gang selebar dua meter yang sengaja dibuat untuk para pengunjung dan untuk keperluan petugas peternakan yang ingin memberi makan dan membersihkan kandang serta keperluan lainnya

Tempat wisata ini terkesan bersih dan terawat, terdapat beberapa papan peringatan yang mengingatkan agar pengunjung agar waspada jika berada dekat dengan kandang buaya




Untuk pengunjung yang berminat mencicipi menu daging buaya, tersedia warung kecil yang menjual sate dan sup buaya, disitu juga dijual asesoris berupa kalung dan gelang dari tulang dan gigi buaya


Produk olahan lainnya adalah minyak buaya, katanya? untuk pengobatan penyakit kulit, disitu dijual juga tangkur buaya yang telah diolah dalam kapsul maupun dalam bentuk cair yang dapat diminum ditempat (katanya lagi?) untuk obat kuat pria

Saya hanya melihat-lihat saja dan tidak tertarik untuk membelinya karena Saya lebih tertarik untuk melihat buayanya







Buaya yang Saya lihat disitu ukurannya tubuhnya relatif kecil (panjang sekitar 2 sd 3 meter), Menurut perkiraan Saya, buaya ini termasuk jenis Buaya Siam (Crocodylus Siamensis)







Daerah penyebaran Buaya Siam secara alami dapat dijumpai di Kalimantan Timur, sebagian Jawa, sebagian Malaysia, Laos, Kamboja, Thailand dan Vietnam

Buaya jenis ini sekarang terancam punah di wilayah sebarannya, dan bahkan pada beberapa tempat tertentu telah punah

Buaya ini umumnya menghuni habitat perairan, seperti sungai, danau, dan rawa, serta lahan basah lainnya, dan ada pula jenis buaya yang hidup di air payau seperti buaya muara

Setelah menghabiskan waktu hampir tiga jam ditempat tersebut, Saya kembali ke Balikpapan untuk melanjutkan perjalanan ke kota Samarinda

Didalam perjalanan pulang Saya sempat berpikir, Apakah pemilik peternakan ini selain menangkar dan mengambil hasil dari peternakan yang dikelolanya, tetapi juga ikut melestarikan keberadaan buaya di daerah ini

Misalnya dengan cara melepaskan beberapa ekor secara berkala kealam bebas, seperti yang telah dilakukan oleh pemerintah Thailand di Taman Nasional Bang Sida dekat kota Kamboja yang secara teratur melepaskan beberapa buaya muda kealam liar dengan maksud agar buaya ini tidak punah dimasa mendatang 

Membayangkan hal itu Saya tersenyum sendiri, karena tidak yakin dengan kerelaan pemilik peternakan tersebut untuk melepaskan beberapa buayanya kealam bebas

Mungkin, Perlu campur tangan pemerintah setempat untuk melakukan pengawasan dan pengendalian serta mengatur regulasinya lebih lanjut kedepan

Sejauh ini diketahui hanya ada sekitar tujuh spesies (atau subspesies) buaya yang ditemukan di Indonesia, yaitu, Buaya Mindoro atau buaya Filipina (Crocodylus Mindorensis), Buaya Irian (Crocodylus Novaeguineae), Buaya Air Asin (Crocodylus Porosus), Buaya Kalimantan (Crocodylus Raninus), Buaya air tawar atau buaya Siam (Crocodylus Siamensis), Buaya Sahul (Crocodylus spinov), dan Buaya Senyulong (Tomistoma Schlegelii)

Sedangkan Buaya Darat, tidak termasuk didalam spesies diatas
 






Posting Komentar