Senin, 02 Desember 2013

Mimpi aneh di Taman Sari



Suatu hari, Saya mengunjungi Situs Cagar Budaya Pesanggrahan Taman Sari yang terletak tidak jauh dari Keraton Kesultanan Jogyakarta

Kompleks bangunan bersejarah yang didirikan pada Tahun 1757 ini, merupakan sebuah bangunan tua berbeton tebal bergaya Eropah, dibangun oleh seorang arsitek kebangsaan Portugis pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I,  Arsitek ini kemudian diangkat menjadi Demang dengan nama dan gelar baru, Demang Tegis

Kompleks bangunan berdiri dilahan seluas sekitar 12 Hektar, dalam perjalanan waktu posisinya sekarang sepertinya sudah berada ditengah pemukiman penduduk



Menurut Pemandu Wisata yang menemani Saya, ada dua versi ceritera mengenai asal mula terbangunnya Pesanggrahan Taman Sari

Menurut Babad Mangkubumi, Taman Sari dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I pada Tahun 1683 (Penanggalan Jawa) atau pada Tahun 1757 menurut Penanggalan Masehi, bersamaan waktunya dengan pembangunan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Sedangkan menurut Babad Memana dan Serat Rerengan, Taman Sari dibangun dibekas Keraton Lama yang didirikan oleh Paku Buwono II, Pembangunan Taman Sari dipimpin oleh Tumenggung Mangundipuro, kemudian dilanjutkan oleh Pangeran Noto Kusumo, seluruh biaya untuk pembangunan pesanggrahan ini dibiayai oleh Bupati Madiun pada masa itu (Tumenggung Prawiro Sentiko)

Sebelum dibuka untuk umum, Dulunya tempat ini merupakan tempat peristirahatan untuk keluarga kesultanan, dalam kondisi darurat bangunan Taman Sari ini berfungsi juga sebagai tempat perlindungan atau benteng pertahanan

Setelah membayar tiket masuk, Saya masuk kedalam kompleks Taman Sari, pengunjung lain yang bersamaan dengan kedatangan Saya saat itu lumayan banyak

Bangunan kuno ini terbagi empat bagian yaitu Pulo Kencana, Pulo Penambung, Kolam Pemandian, Bangunan Tempat tidur Sultan, dan sebuah Masjid

Sebelum terjadinya kerusakan, Pulo Kenongo merupakan sebuah pulau yang berada ditengah danau buatan, diatas pulau ini dibangun gedung berlantai dua yang disebut dengan Gedhong Kenongo, dari kejauhan gedung ini terlihat seperti mengambang diatas air


Disebelah barat Pulo Kenongo terdapat sebuah bangunan berbentuk lingkaran yang bernama Sumur Gumuling, pada masa lalu tempat ini digunakan sebagai masjid lengkap dengan tempat untuk berwudhu

Dalam catatan sejarah, pada tahun 1812, sebagian bangunan mengalami kerusakan karena serangan serdadu Inggeris, kemudian pada tahun 1867 terjadi kerusakan lagi karena adanya gempa bumi




Tanpa terasa hampir dua jam lebih Saya mengelilingi tempat ini, Saya kemudian mencari tempat duduk yang terdapat dibawah pohon dan bersandar sambil melepaskan penat dikaki

Pikiran Saya melayang kemasa lalu, membayangkan keindahan dan kemegahan yang dimiliki oleh Pesanggrahan Taman Sari ini ketika masih belum terjadinya kerusakan

Tiba-tiba, tangan Saya terasa disentuh oleh jemari yang lembut, Saya segera menoleh kearah si Pemilik Tangan, terlihat sosok perempuan muda cantik, berkulit kuning, dan berambut panjang, perempuan ini mengenakan busana Tradisional Jawa (Kemben dengan bahu terbuka, dan pada bahunya ditutupi oleh sehelai selendang tipis berwarna hijau terang)

Dilihat dari model dan bahan pakaian yang dikenakan oleh perempuan ini, Saya menduga wanita ini adalah seorang Dayang atau bisa jadi seorang Puteri

“Maaf Kisanak, Sebaiknya Anda tidak berada dilokasi ini, kami mau Siraman (mandi)” Kata perempuan tersebut ramah dalam Bahasa Jawa yang halus

“Kecuali, Kalau Kisanak mau ikut mandi juga” Katanya lagi dengan tetap menggunakan Bahasa Jawa, anehnya Saya seolah mengerti dengan apa yang dikatakannya, padahal kemampuan Saya berbahasa Jawa sangat minim sekali

Saya terpana, Seraya menoleh kearah kolam, pada kolam tersebut terlihat tiga perempuan lain yang sedang bermain air, mereka tersenyum sambil melambaikan tangannya kearah Saya

Saya mulai terbuai oleh suasana magis, bingung sekaligus ragu, antara mau ikutan mandi dan perasaan khawatir kalau perbuatan Saya ini nantinya dianggap menyalahi aturan, bisa-bisa Saya diamankan oleh Penjaga Taman

Ditengah keraguan yang sedang terjadi, Tiba-tiba ada sebuah tangan lain yang menepuk pundak Saya

“Bapak, Bangun Pak, hari sudah sore, kami mau tutup”

“Ada apa lagi ya” Pikirku sambil mengucek mata

Ternyata suara Pemilik Warung yang ingin mengambil bangku yang sedang Saya pinjam untuk duduk karena warungnya sudah mau tutup

Ego Saya muncul, Ingin rasanya Saya membeli bangku yang Saya pinjam tadi, karena Pemilik Warung ini telah membuyarkan mimpi yang baru berlangsung setengah jalan, tetapi hal itu tidak terjadi, karena Saya segera membuang pikiran yang kurang manfaat tersebut 

“Maafkan Saya Bapak, Sepertinya Saya tadi ketiduran”  Sahutku tersipu sambil meminta maaf kepada yang punya bangku

Beberapa saat kemudian Saya baru tersadar, selain meminta maaf seharusnya Saya juga mengucapkan terimakasih kepada Pemilik Warung karena telah membangunkan Saya pada saat yang tepat


Konon katanya, Jika mimpi tadi berlanjut, dan Saya terlanjur ikutan mandi dikolam, ada kemungkinan Saya tidak bisa kembali lagi ke alam nyata

Membayangkan kemungkinan tersebut bulu kuduk Saya jadi merinding, Masih mending jika di alam sana, Saya diangkat menjadi Demang atau Senopati, kalau misalnya cuma dijadikan Tukang Bersih Kolam, amit-amit deh, Saya pastinya minta deportasi 

Setelah menenangkan diri, kemudian Saya beranjak menuju ketempat parkir dan berlalu meninggalkan Pesanggrahan Taman Sari





Posting Komentar