Kamis, 20 Desember 2012

Perjalanan (4) Dari Jedah ke Jakarta


Umratan, Omra, atau lebih dikenal di Negara kita dgn sebutan Umroh,  Adalah kunjungan warga muslim ke Baitullah di Mekah untuk melaksanakan ibadah keagamaan menurut tata cara yang telah ditentukan, dan dapat dilakukan kapan saja disepanjang tahun kecuali pada hari arafah dan hari tasyriq (bagi orang yang ber haji)

Selain pengalaman spiritual yang tidak bisa Saya tuliskan secara detail disini, ada juga beberapa pengalaman lain yang Saya alami dalam melaksanakan ibadah Umroh tersebut

Saya berbagi kepada pembaca, dgn harapan pengalaman ini nantinya dapat menjadi sedikit pembelajaran dan pencerahan



Makan siang menjelang kepulangan


Pulang Kampung

Jika ada orang yang bertanya, Apakah Saya ingin berlama-lama berada di Mekah?  Saya pasti akan menjawab “iya” dengan anggukan kepala

Karena jumlah hari yang diijinkan oleh penyedia perjalanan telah habis, maka Saya dan rombongan bersiap untuk pulang ke tanah air

Setelah menyelesaikan thowaf yang terakhir, kemudian kembali ke hotel untuk makan siang, kami segera membenahi barang, agar tidak ada yang tertinggal

Pada pukul 13.30  Bus yang membawa kami ke Jedah mulai berjalan meninggalkan Mekah, Bus ini cukup besar dan nyaman, sopirnya seorang keturunan arab yang berdomisili di Jedah, pengalamannya sebagai sopir bus sekitar lima tahun

Persiapan untuk pulang

Dari Mekah menuju ke Jedah membutuhkan waktu empat jam, suasana dalam perjalanan aman dan lancar, dan pada pukul 17.30 kami telah sampai di Jedah

Jadwal penerbangan pesawat dari Jedah ke Jakarta pada pukul 24.00,  jadi ada waktu kosong sekitar tiga jam yang bisa dimanfaatkan untuk berkeliling  kota Jedah

Ketua rombongan mengusulkan, untuk mengunjungi Al Corniche Commercial Center, salah satu Pusat Perbelanjaan yang ada di Jedah, kemudian jika waktunya mencukupi akan melihat Masjid Terapung ditepi Laut Merah

Corniche Center ini, biasanya disebut juga dengan Al Ballad, kami hanya CLBK (Cuma Lihat, Beli Kagak), karena barang yang dijual disitu hampir sama saja dengan yang ada di Jakarta

Dibagian samping kiri Al Corniche dijual rupa-rupa makanan khas Indonesia, seperti Bakso, Pecel Lele dll, Saya tergiur untuk mencicipinya karena ada rasa ingin tahu, bagaimana citarasa makanan yang populer di Indonesia ini jika dimasak oleh orang arab


Penjual makanan Indonesia di Jedah

“Ternyata Saya salah” karena yang berjualan makanan tersebut adalah migran yang berasal dari Indonesia juga

Menjelang waktu Maghrib, kami telah berada di Masjid Terapung (maaf, Saya lupa nama Masjid ini) yang terletak di pinggiran Laut Merah utk melaksanakan sholat Maghrib dan Isya



Kedai Kopi didekat Masjid Terapung

Sebelumnya Saya membayangkan yang namanya Masjid Terapung ini adalah sebuah masjid yang dibangun diatas kapal atau diatas tongkang yang mengapung dipermukaan Laut Merah



Bangunan Masjid Terapung

Jembatan Penghubung menuju Masjid

Beranda Masjid Terapung

“Ternyata Saya salah lagi”  karena yang dinamakan Masjid Terapung ini adalah bangunan sebuah masjid yang tidak terlalu besar yang dibangun pada perairan dangkal, dengan fondasi menggunakan tiang pancang beton

Kemudian dari daratan menuju ke masjid tersebut, dibuat sebuah jembatan penghubung selebar tiga Meter dengan panjang tiga puluh Meter, mirip dengan konstruksi beberapa masjid yang dibangun di sepanjang Sungai Martapura, Banjarmasin

Sekarang, sudah saatnya kami menuju Bandar Udara King Abdul Aziz untuk naik ke pesawat yang akan membawa rombongan pulang ke Indonesia

Setelah membenahi bagasi dan melewati pemeriksaan paspor, sembilan jam kemudian pesawat mendarat di Bandar Udara Soekarno Hatta,Cengkareng

“Alhamdulillah kami telah sampai kembali di Indonesia dengan selamat”

 (habis)


Perjalanan (2) Madinah Al Munawarah

Perjalanan (3) Mekah Al Mukaromah



Sabtu, 08 Desember 2012

Perjalanan (3) Mekah Al Mukaromah

Umratan, Omra, atau lebih dikenal di Negara kita dgn Umroh,  Adalah kunjungan warga muslim ke Baitullah di Mekah untuk melaksanakan ibadah keagamaan menurut tata cara yang telah ditentukan, dan dapat dilakukan kapan saja disepanjang tahun kecuali pada hari arafah dan hari tasyriq (bagi orang yang ber haji)

Selain pengalaman spiritual yang tidak bisa Saya tuliskan secara detail disini, terdapat juga beberapa pengalaman lain yang Saya alami dalam melaksanakan ibadah Umroh tersebut

Saya berbagi kepada pembaca, dgn harapan pengalaman ini nantinya dapat menjadi sedikit pembelajaran dan pencerahan




Mekah Al Mukaromah
Hari berikutnya, selepas sholat jum’at (16 Maret 2012), Saya sudah berada didalam bus yang akan membawa rombongan menuju ke Mekah, jarak tempuh Madinah ke Mekah kurang lebih 425 Km, atau sekitar 6 jam perjalanan

Sebelum sampai di Mekah, rombongan singgah dulu di Beer Ali untuk mengambil Miqat yang pertama
Disini Saya mulai mengenakan pakaian Ihram sebagai syarat wajib untuk setiap warga muslim yang akan mengunjungi Masjid Al Haram untuk melaksanakan ibadah umrah atau haji

Tiba di Mekah sekitar pukul 20.00, setelah menyimpan barang, dan menyelesaikan makan malam di hotel, kami segera menuju ke Masjid Al Haram untuk melaksanakan ritual keagamaan

Ini adalah pengalaman Saya yang pertama, berhadapan dan melihat dgn mata kepala sendiri, bahkan dapat menyentuhkan kedua belah telapak tangan ini ke dinding Baitullah yang agung


Masjid Al Haram Tahun 2012

Kota Mekah Tahun 2012

Rencana Masjid Al Haram tahun 2020

Pada momen ini, ada perasaan senang dan terharu berbaur didalam hati ini, dan tanpa Saya sadari ada air mata yang meleleh membasahi pipi

Senang, karena Selama ini Baitullah hanya dapat Saya lihat dari photo maupun lewat tayangan TV saja, sekarang, Alhamdulillah, Saya telah berdiri disalah satu sisinya

Terharu, karena tidak semua warga muslim mendapat kesempatan dan kesehatan serta kelapangan rejeki untuk bisa mengunjungi Baitullah ini


Sambil berpegangan didinding Baitullah yang agung ini, Saya memanjatkan do'a, semoga sanak keluarga dan warga muslim yang belum pernah kesini, diberikan kesehatan dan kemudahan rejeki, untuk bisa datang dan melihat Baitullah sebelum menutup mata, Amien 

Saya kemudian beranjak pelan meninggalkan Baitullah untuk melanjutkan ritual ibadah lainnya, Ya Allah, Ya Rabb, Semoga pelaksanaan Ibadah Umroh ini mabrur

Jamaah sedang melaksanakan Thowaf

Sisi lain Baitullah

Saya dan Ibu Mertua

Selain menjalankan ritual keagamaan, Saya dan rombongan berkesempatan juga mengunjungi beberapa tempat seperti Masjid Tan’im, Masjid Ji’ranah, Masjid Hudaibiah, Museum Ka’bah, dan Peternakan Unta

Dibanding cuaca di Madinah, Udara di Mekah terasa lebih panas, berdebu, dan berangin,  bibir dan telapak kaki mulai mengering, pecah-pecah dan terkelupas

Disini, jamaah sebaiknya mengurangi kegiatan yang tidak perlu, dan jika ada kesempatan, lebih baik digunakan untuk istirahat di hotel, sangat dianjurkan untuk memperbanyak minum air dan memakan buah

Halaman luar Masjid Al Haram-1
                                
Halaman luar Masjid Al Haram-2

Halaman luar Masjid Al Haram-3

Di Mekah ini ada juga Pedagang Kaki Lima, malahan disini terlihat lebih banyak dibanding di Madinah, harga barang yang dijual tidak beda jauh dgn harga di Madinah Persamaan diantara mereka adalah mau menerima mata uang rupiah ketika kita berbelanja

Berbelanja dgn mata uang rupiah, sepertinya dapat lebih menghemat pengeluaran, karena jika kita menukarkan uang rupiah di Money Changer, nilai tukar 1 real dihitung sebesar Rp.2.700, sementara jika kita membayar belanjaan kepada pedagang dgn mata uang rupiah, nilai kursnya dihitung Rp.2.500 per 1 real

Belanjalah secukupnya saja, dan pilih barang yang kecil dan ringan bobotnya, jangan sampai melampaui berat bagasi yang diperbolehkan, Karena setiap kelebihan bagasi akan di kenakan biaya oleh perusahaan penerbangan

 
Perjalanan (1) Banjarmasin-Jakarta-Jedah


Perjalanan  (4) Pulang Kampung, Jedah ke Jakarta




Sabtu, 17 November 2012

Perjalanan (2) Madinah Al Munawarah

Umratan, Omra, atau lebih dikenal di Negara kita dgn Umroh,  Adalah kunjungan warga muslim ke Baitullah di Mekah untuk melaksanakan ibadah keagamaan menurut tata cara yang telah ditentukan, dan dapat dilakukan kapan saja disepanjang tahun kecuali pada hari arafah dan hari tasyriq (bagi orang yang ber haji)

Selain pengalaman spiritual yang tidak bisa Saya tuliskan secara detail disini, terdapat juga beberapa pengalaman lain yang Saya alami dalam melaksanakan ibadah Umroh tersebut

Saya berbagi kepada pembaca, dgn harapan pengalaman ini nantinya dapat menjadi sedikit pembelajaran dan pencerahan


Madinah Al Munawarah
Karena lebih fokus untuk melaksanakan ibadah, Selama berada 4 hari dikota ini, tidak banyak yang sempat Saya ketahui mengenai keadaan kota ini, kecuali pada beberapa tempat yang pernah Saya kunjungi

Hotel Jawharatal Fairoz

Hotel tempat Saya menginap berjarak dua blok (jalan) dari Masjid Nabawi, kesempatan berjalan bolak balik dari hotel yang sangat sedikit waktunya inilah yang Saya pergunakan untuk melihat dan memantau kondisi disekitarnya untuk bahan penulisan ini

Majid Nabawi waktu malam hari

Bagian Dalam Masjid Nabawi

Sudut Lain, didalam Masjid Nabawi

Salah Satu pintu Masuk Masjid Nabawi

Sebagian halaman luar Masjid (siang)

Sebagian halaman luar Masjid (malam)

Udara pada waktu itu (Maret, 2012) cukup sejuk, bila dibandingkan kota Jakarta atau Surabaya, Jalanan disini umumnya lebar, licin dan bersih, dikiri kanan jalan berdiri hotel dan kantor serta toko dgn ciri khas bangunan gaya timur tengah

Sebuah jalan di Kota Madinah

Sudut Kota lainnya

Disini tidak terlihat penggemis dan gelandangan, tidak terlihat juga angkutan kota dan sepeda motor, kecuali Taxi, Bis Wisata, dan Sepeda Motor milik polisi setempat,

Hampir tidak pernah terlihat polisi lalu lintas yg berjaga dipersimpangan atau sudut jalan (mungkin disiplin pengendara disini sudah cukup baik, sehingga tidak perlu diatur-atur oleh petugas)

Seperti halnya di Indonesia, disini terdapat juga pedagang kaki lima (PKL) yang membuka lapak dagangan, dan biasanya mereka ini berjualan setelah bubarnya sholat lima waktu

Dagangan yang mereka jual pada umumnya adalah busana muslim dan minyak wangi, serta rupa2 barang lainnya, dan yang unik dari mereka ini adalah untuk barang yang sama harganya jauh lebih murah dibanding bila kita belanja di toko, (mungkin biaya yg dikeluarkan mereka lebih efisien karena tidak harus membayar sewa dan pajak serta gaji karyawan)

Sebagian besar pedagang ini,  ternyata mau juga menerima pembayaran dgn uang rupiah kita, kursnya sebesar Rp.2.500 per satu real
(pecahan uang yang mau diterima oleh pedagang tersebut adalah pecahan 100 rb dan 50 rb an)


Pedagang Kaki Lima

Hal lain yang dijumpai disini, Banyaknya burung merpati yang sengaja dipelihara oleh pemerintah setempat yang secara berkala dikasih pakan oleh petugas dan sebagian lagi diberi makan oleh pengunjung atau pendatang dgn membeli pakan dari pedagang yang diperbolehkan untuk menjual makanan burung tsb dgn harga satu real per bungkus

Halaman Luar Masjid Nabawi

Selain Masjid Nabawi yang berjarak sekitar 200 M, dari hotel tempat Saya menginap, Saya sempatkan juga untuk ziarah ke Makam Rasulullah Saw, di Ar Raudhah, kemudian juga ke Areal pemakaman Baqi, yang lokasinya kebetulan ada di seputaran Masjid Nabawi

Pemakaman  Para Syuhada di Baqi

Hari berikutnya, Saya dan rombongan mengunjungi Masjid Quba, Jabal Uhud, dan Kebun Kurma,  

Nah, yang unik dari pasar kurma yang jadi satu tempatnya dgn Kebun Kurma ini adalah,  “Bila kita tidak malu-malu in”, pengunjung diberi kebebasan untuk memakan kurma sepuasnya, asal kurmanya tidak dibawa keluar areal toko,
Saya termasuk salah satu diantara pengunjung toko yang memanfatkan kesempatan tersebut
Setelah membeli beberapa produk olahan berbahan kurma yang tidak dijumpai di Indonesia untuk cemilan dijalan Saya berputar kesudut lain pada toko tersebut

Sebagian besar pramuniaga yang menjaga dan melayani pengunjung toko adalah WNI dari Suku Jawa, Sehingga komunikasi dgn mereka menjadi terasa lebih lancar dan bersahabat 
Soalnya, bahasa arab yang Saya ketahui sangat sedikit sekali, misalnya, La untuk tidak, Na’am untuk Yes, dan Sukron untuk terimakasih, selebihnya Saya hanya menggunakan bahasa isyarat,  Anda pasti juga tahu, ternyata bahasa isyarat adalah bahasa universal yang sejak jaman batu dulu telah digunakan untuk menjalin komunikasi


Toko Penjual kurma olahan

Kebun kurma

Cara primitip ini sering Saya praktekkan dan ternyata bisa nyambung juga, seperti ketika Saya mau mengambil kunci kamar hotel di resepsionis, Saya hanya cukup memencet sejumlah nomer di kalkulator yang ada disitu, kemudian Saya sodorkan kepada petugas hotel dan mereka kemudian memberikan kunci hotel, (terbukti nyambung juga, khan)

Mereka juga umumnya tidak mengerti bahasa Indonesia, sedangkan bila mereka berbicara menggunakan Bahasa Inggeris,  Saya nya lagi yang tidak mengerti (bersambung)


Perjalanan (1) Banjarmasin-Jakarta-Jedah

Perjalanan (3) Mekah Al Mukaromah

Perjalanan (4) Pulang Kampung, Jedah ke Jakarta

Sabtu, 29 September 2012

Perjalanan (1) Banjarmasin-Jakarta-Jedah


Umratan, Omra, atau lebih dikenal di Negara Indonesia dgn Umroh, Adalah kunjungan warga muslim ke Baitullah di Mekah untuk melaksanakan ibadah keagamaan menurut tata cara yang telah ditentukan, dan dapat dilakukan kapan saja disepanjang tahun kecuali pada hari arafah dan hari tasyriq (bagi orang yang ber haji)

Halaman luar Masjid Nabawi

Selain pengalaman spiritual yang bersifat pribadi yang tidak bisa Saya tuliskan secara detail disini, terdapat juga beberapa pengalaman lain dalam melaksanakan ibadah Umroh ini yang ingin Saya bagikan kepada pembaca, dgn harapan pengalaman ini nantinya dapat memberikan sedikit pembelajaran dan pencerahan

(Tulisan ini cukup panjang, tulisan Saya bagi menjadi beberapa bagian)


Banjarmasin-Jakarta-Jedah
Waktu setempat menunjukan angka 09.00 ketika Pesawat Garuda yang kami tumpangi dari Banjarmasin mendarat di Bandara Cengkareng, Alhamdulillah, tahap awal perjalanan pertama kali untuk menunaikan Ibadah Umroh ini telah dimulai

Penumpang turun dgn tertib, kemudian menuju ruang tunggu bandara untuk transit ke Penerbangan berikutnya menuju jedah

Setelah hampir 2 jam menunggu, terdengar pemberitahuan agar penumpang dgn tujuan Jedah segera check In

Seusai urusan administrasi ticket dan paspor serta bagasi, kemudian kami memasuki Pesawat

Pada pukul 12.05 pesawatpun tinggal landas meninggalkan Bandara Soekarno Hatta menuju Jedah,Bersama dgn sekitar 400 orang penumpang lainnya, kami memulai perjalanan panjang selama 9 jam

Pada monitor TV yang ada didepan tempat duduk, terpampang data perjalanan yang ditayangkan oleh garuda setiap 30 menit sekali, Kecepatan pesawat rata2, 945 Km per Jam, Ketinggian jelajah sekitar 11.800 M (38.000 Feet), jarak terbang Jakarta ke Jedah sekitar 7.980 Km, perbedaan waktu setempat (WIB) dgn waktu tujuan selisih 4 Jam

Penumpang terlihat ceria, mungkin ini perjalanan mereka yang pertama melaksanakan Ibadah Umroh (termasuk Saya) dan sebagian mulai berkenalan dan berbincang dgn tetangga duduknya, sebagian lagi ada yang melakukan sholat yang belum sempat dikerjakan

Pesawat Boeing 747 berbadan lebar ini terasa nyaman sebagai alat angkut udara daripada pesawat yang sebelumnya pernah Saya naiki, awak kabin ramah dan professional, setelah mendapatkan dua kali makan dan satu kali snack, pada pukul 17.00 waktu setempat, pesawatpun bersiap untuk mendarat di Bandara Jedah

Setelah pesawat berhenti pada tempatnya, kami turun ke ruangan kedatangan untuk mengurus bagasi dan melewati petugas imigrasi yang melakukan pemeriksaan paspor


Beberapa penumpang termasuk Saya menyempatkan untuk membeli sim card lokal (Mobily, Telkomselnya Arab Saudi) yang banyak dijajakan oleh penduduk setempat dgn harga 100 ribu yang berisi pulsa 40 real, ini adalah salah satu kiat yang Saya ketahui sebelum berangkat dari teman2 yang pernah kesini sebelumnya, yaitu cara untuk menghemat biaya percakapan per telepon atau kirim SMS ke Indonesia

Setelah urusan paspor dan bagasi selesai, kami keluar dari areal bandara untuk menuju bus yang akan membawa kami menuju kota Madinah

Ibu Mertua dan Anak Sulung Saya

Walau diatas kursi roda, tetap semangat

Jamaah dari Kabupaten Banjar

Suasana diruang tunggu Bandara Jedah

Keloter Jamaah dari Bandung, Jawa Barat

Yang sempat Saya perhatikan sebelum bus bergerak keluar kawasan bandara Jedah adalah, Bandar udara ini jauh lebih luas dan megah daripada Bandar udara Soekarno Hatta, tetapi agak kurang penghijauan (mungkin tanaman sulit tumbuh dgn baik disini))

Bandar udara pada waktu itu terlihat sepi dari penumpang lain kecuali rombongan kami, juga tidak terlihat kios, toko dan penjual makanan dan semacamnya seperti yang banyak kita jumpai dibandar udara tanah air

Bagian luar Bandara King Abdul Aziz

Bagian dalam Bandara King Abdul Aziz

Persiapan menaiki Bus,  menuju ke Madinah

Waktu tempuh dari Jedah ke Madinah, sekitar 5 jam, tidak banyak yang dapat Saya ceriterakan dalam perjalanan ini, karena diluar terlihat gelap, Saya lirik jam tangan, waktu sudah menunjukan pukul 20.00 (waktu Jedah)

Setelah melaksanakan sholat di Masjid setempat, dan makan malam dari kotak yang dibagikan, Saya pun mulai ketiduran, dan terbangun kembali sekitar pukul 24.00, karena bus telah sampai didepan hotel tempat kami menginap, setelah menerima kunci kamar, Saya melanjutkan kembali tidur yang sempat terganggu tadi, dan bersiap untuk bangun lagi pada dini hari utk melaksanakan sholat shubuh  (bersambung... )

Perjalanan (2) Madinah Al Munawarah

Perjalanan (3) Mekah Al Mukaromah



Kamis, 23 Agustus 2012

Pantai Takisung, Kalimantan Selatan

Awal Juli 2012 yang lalu, Saya punya kesempatan lagi untuk berkunjung ke Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Takisung

Banyak kemajuan dan perubahan yang Saya jumpai ditempat wisata ini, selain bertambahnya pengunjung yang datang dari kota terdekat

Terlihat adanya tambahan fasilitas umum yang dibangun oleh pemerintah setempat, untuk memberikan kemudahkan dan memanjakan pengunjung yang datang, seperti tempat parkir mobil dan motor yang luas, tempat mandi untuk membasuh badan dari air asin, dan bangunan mushola untuk pengunjung yang memerlukannya


Pantai Takisung



Wisata Alam Pantai Takisung terletak disebelah selatan Pulau Kalimantan, berhadapan langsung dengan Laut Jawa, lokasi persisnya berada di Kabupaten Tanah Laut dengan ibukotanya Pleihari

Jarak tempuh dari kota Banjarmasin sekitar 83 Km, kondisi jalan menuju kesini umumnya baik, dan pada beberapa titik masih dijumpai jalan yang berlubang

Yang terasa unik setelah keluar dari kota Pleihari memasuki jalan ke Pantai Takisung adalah banyaknya jembatan kecil (ada sekitar 25 buah jembatan) yang menghubungkan saluran irigasi dan sungai kecil disamping kanan dan kiri jalan tersebut


Pantai Takisung-1

Pantai Takisung-2

Kondisi tempat wisata, berupa pantai landai berpasir dengan warna kecoklatan, membujur dari barat ke timur sepanjang dua Kilometer,  

Perairan disini pada umumnya dangkal dan cukup aman untuk pengunjung, Warna Air laut tidak terlalu jernih, (keruh kecoklatan), karena pengaruh aliran lumpur yang terbawa arus dari beberapa sungai yang banyak terdapat disitu


Pada sisi sebelah timur dari Pantai Takisung ini terdapat Pantai Batakan, sebuah Tempat wisata Alam sejenis, karena jarak tempuhnya cukup jauh, maka pengunjung lebih suka datang ke Pantai Takisung

Pengunjung yang ingin berenang dapat menyewa perahu karet yang banyak dijajakan, tersedia juga Banana Boat dengan kapasitas lima atau enam orang

Banyak terdapat warung kecil yang menjual makanan dan minuman serta warung survenir untuk oleh-oleh


Warung tradisional-1

Warung tradisional- 2

Untuk pengunjung yang tidak ingin berenang, dapat menyewa salah satu tenda yang terdapat disepanjang garis pantai untuk berlindung dari terik matahari atau hujan, bila  membawa tenda sendiri, dapat mendirikannya disekitar pantai

Disini tersedia juga penginapan kelas melati dengan jumlah kamar yang terbatas, pengunjung yang datang umumnya datang pagi kemudian pulang sore harinya, jarang yang menggunakan penginapan ini  

Hotel dan Penginapan lain yang terdekat, dapat dijumpai di kota Pleihari, sekitar 22 Km dari tempat wisata ini


Kerang Lokal-1

Kerang Lokal-2

Kerang Lokal-3

Tempat wisata ini bila dikelola dengan baik tidak berbeda jauh kondisinya dengan Pantai Kuta atau Pantai Jimbaran di Bali

Kelebihan tempat wisata ini dibandingkan dengan pantai kuta adalah adanya bangunan mushola yang didirikan ditepi pantai, sangat membantu jika ada pengunjung yang memerlukannya

Kekurangannya adalah banyaknya sampah yang dibuang tidak pada tempatnya, Warna air laut yang tidak jernih, serta ombak yang relatif kecil, sehingga tidak mendukung untuk pengunjung yang mempunyai hobi surfing


Mushola mungil dan bersih

Keberadaan sebuah Mushola ditempat ini adalah satu langkah maju dari pemerintah setempat yang tidak pernah Saya temukan ditempat wisata pantai pada daerah lain

Mengingat pengunjung yang berdatangan tidak hanya ingin sekedar rekreasi saja tetapi butuh juga tersedianya tempat dan kesempatan bagi warga muslim untuk tidak meninggalkan ibadah sholat 



Jumat, 27 Juli 2012

Taman Wisata Borneo Life

Mau melihat buaya (Crocodylidae) dialam bebas? 
Pasti diperlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit, belum lagi ada kemungkinan mendapat halangan dan bahaya yang tidak diharapkan

Dari pada memboroskan waktu dan tenaga, dan juga tidak ada garansi dapat melihat buaya tersebut di alam bebas, maka Saya putuskan untuk melihat buaya ditempat penangkarannya saja

Untuk memenuhi keinginan tersebut, Saya berangkat ke Balikpapan, Kalimantan Timur, dikota ini terdapat tempat penangkaran buaya yang dimiliki oleh perorangan dan boleh dikunjungi oleh umum dengan membayar tiket masuk

Nama tempat penangkaran tersebut adalah Taman Wisata Borneo Life  terletak di Manggar (Teritip) 27 Km sebelah timur kota Balikpapan, akses jalan untuk menuju tempat ini lumayan baik dan dapat didatangi dengan kendaraan umum maupun pribadi





Sepengetahuan Saya, di Pulau Kalimantan ini, ada lima tempat penangkaran buaya, (Balikpapan, Samarinda, Tanjung Redeb, Tarakan, dan Batulicin) dan mungkin saja terdapat juga diwilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah

Keberadaan Taman Wisata Borneo Life sudah ada sejak tahun 2000 lalu, dan saat ini memiliki sekitar 1.500 ekor buaya dengan berbagai ukuran

Peternakan ini dikembangkan secara intens dengan campur tangan manusia sehingga tingkat keberhasilan hidup buaya tersebut sejak menetas sampai menjadi dewasa mencapai 90 persen lebih

Bandingkan dengan keberhasilan tingkat hidup Buaya di alam bebas, sejak menetas dari telurnya sampai menjadi buaya dewasa, paling banyak kurang dari 10 persen saja yang dapat survive, karena adanya predator dan ulah sebagian orang yang melakukan penangkapan secara illegal

Setelah membayar tiket masuk sebesar 5 ribu rupiah, Saya memasuki peternakan buaya tersebut, Luas seluruh lahan Borneo Life sekitar 10 Ha, dan lahan yang telah terpakai untuk penangkaran buaya kurang lebih 1 Ha, sisanya untuk penghijauan, bangunan, dan jalanan

Jalan masuk utama untuk pengunjung selebar 6 x 60 Meter, disamping kanan dan kiri jalan tersebut terdapat kolam berisi buaya yang ditempatkan didalam beberapa kandang beton berpagar kawat dengan ukuran 10 x 10 Meter yang berisi buaya sekitar 15 sd 20 ekor per kandangnya

Pengunjung yang datang dapat melihat buaya tersebut dari sebuah lorong atau gang selebar dua meter yang sengaja dibuat untuk para pengunjung dan untuk keperluan petugas peternakan yang ingin memberi makan dan membersihkan kandang serta keperluan lainnya

Tempat wisata ini terkesan bersih dan terawat, terdapat beberapa papan peringatan yang mengingatkan agar pengunjung agar waspada jika berada dekat dengan kandang buaya




Untuk pengunjung yang berminat mencicipi menu daging buaya, tersedia warung kecil yang menjual sate dan sup buaya, disitu juga dijual asesoris berupa kalung dan gelang dari tulang dan gigi buaya


Produk olahan lainnya adalah minyak buaya, katanya? untuk pengobatan penyakit kulit, disitu dijual juga tangkur buaya yang telah diolah dalam kapsul maupun dalam bentuk cair yang dapat diminum ditempat (katanya lagi?) untuk obat kuat pria

Saya hanya melihat-lihat saja dan tidak tertarik untuk membelinya karena Saya lebih tertarik untuk melihat buayanya







Buaya yang Saya lihat disitu ukurannya tubuhnya relatif kecil (panjang sekitar 2 sd 3 meter), Menurut perkiraan Saya, buaya ini termasuk jenis Buaya Siam (Crocodylus Siamensis)







Daerah penyebaran Buaya Siam secara alami dapat dijumpai di Kalimantan Timur, sebagian Jawa, sebagian Malaysia, Laos, Kamboja, Thailand dan Vietnam

Buaya jenis ini sekarang terancam punah di wilayah sebarannya, dan bahkan pada beberapa tempat tertentu telah punah

Buaya ini umumnya menghuni habitat perairan, seperti sungai, danau, dan rawa, serta lahan basah lainnya, dan ada pula jenis buaya yang hidup di air payau seperti buaya muara

Setelah menghabiskan waktu hampir tiga jam ditempat tersebut, Saya kembali ke Balikpapan untuk melanjutkan perjalanan ke kota Samarinda

Didalam perjalanan pulang Saya sempat berpikir, Apakah pemilik peternakan ini selain menangkar dan mengambil hasil dari peternakan yang dikelolanya, tetapi juga ikut melestarikan keberadaan buaya di daerah ini

Misalnya dengan cara melepaskan beberapa ekor secara berkala kealam bebas, seperti yang telah dilakukan oleh pemerintah Thailand di Taman Nasional Bang Sida dekat kota Kamboja yang secara teratur melepaskan beberapa buaya muda kealam liar dengan maksud agar buaya ini tidak punah dimasa mendatang 

Membayangkan hal itu Saya tersenyum sendiri, karena tidak yakin dengan kerelaan pemilik peternakan tersebut untuk melepaskan beberapa buayanya kealam bebas

Mungkin, Perlu campur tangan pemerintah setempat untuk melakukan pengawasan dan pengendalian serta mengatur regulasinya lebih lanjut kedepan

Sejauh ini diketahui hanya ada sekitar tujuh spesies (atau subspesies) buaya yang ditemukan di Indonesia, yaitu, Buaya Mindoro atau buaya Filipina (Crocodylus Mindorensis), Buaya Irian (Crocodylus Novaeguineae), Buaya Air Asin (Crocodylus Porosus), Buaya Kalimantan (Crocodylus Raninus), Buaya air tawar atau buaya Siam (Crocodylus Siamensis), Buaya Sahul (Crocodylus spinov), dan Buaya Senyulong (Tomistoma Schlegelii)

Sedangkan Buaya Darat, tidak termasuk didalam spesies diatas