Sabtu, 17 November 2012

Perjalanan (2) Madinah Al Munawarah

Umratan, Omra, atau lebih dikenal di Negara kita dgn Umroh,  Adalah kunjungan warga muslim ke Baitullah di Mekah untuk melaksanakan ibadah keagamaan menurut tata cara yang telah ditentukan, dan dapat dilakukan kapan saja disepanjang tahun kecuali pada hari arafah dan hari tasyriq (bagi orang yang ber haji)

Selain pengalaman spiritual yang tidak bisa Saya tuliskan secara detail disini, terdapat juga beberapa pengalaman lain yang Saya alami dalam melaksanakan ibadah Umroh tersebut

Saya berbagi kepada pembaca, dgn harapan pengalaman ini nantinya dapat menjadi sedikit pembelajaran dan pencerahan


Madinah Al Munawarah
Karena lebih fokus untuk melaksanakan ibadah, Selama berada 4 hari dikota ini, tidak banyak yang sempat Saya ketahui mengenai keadaan kota ini, kecuali pada beberapa tempat yang pernah Saya kunjungi

Hotel Jawharatal Fairoz

Hotel tempat Saya menginap berjarak dua blok (jalan) dari Masjid Nabawi, kesempatan berjalan bolak balik dari hotel yang sangat sedikit waktunya inilah yang Saya pergunakan untuk melihat dan memantau kondisi disekitarnya untuk bahan penulisan ini

Majid Nabawi waktu malam hari

Bagian Dalam Masjid Nabawi

Sudut Lain, didalam Masjid Nabawi

Salah Satu pintu Masuk Masjid Nabawi

Sebagian halaman luar Masjid (siang)

Sebagian halaman luar Masjid (malam)

Udara pada waktu itu (Maret, 2012) cukup sejuk, bila dibandingkan kota Jakarta atau Surabaya, Jalanan disini umumnya lebar, licin dan bersih, dikiri kanan jalan berdiri hotel dan kantor serta toko dgn ciri khas bangunan gaya timur tengah

Sebuah jalan di Kota Madinah

Sudut Kota lainnya

Disini tidak terlihat penggemis dan gelandangan, tidak terlihat juga angkutan kota dan sepeda motor, kecuali Taxi, Bis Wisata, dan Sepeda Motor milik polisi setempat,

Hampir tidak pernah terlihat polisi lalu lintas yg berjaga dipersimpangan atau sudut jalan (mungkin disiplin pengendara disini sudah cukup baik, sehingga tidak perlu diatur-atur oleh petugas)

Seperti halnya di Indonesia, disini terdapat juga pedagang kaki lima (PKL) yang membuka lapak dagangan, dan biasanya mereka ini berjualan setelah bubarnya sholat lima waktu

Dagangan yang mereka jual pada umumnya adalah busana muslim dan minyak wangi, serta rupa2 barang lainnya, dan yang unik dari mereka ini adalah untuk barang yang sama harganya jauh lebih murah dibanding bila kita belanja di toko, (mungkin biaya yg dikeluarkan mereka lebih efisien karena tidak harus membayar sewa dan pajak serta gaji karyawan)

Sebagian besar pedagang ini,  ternyata mau juga menerima pembayaran dgn uang rupiah kita, kursnya sebesar Rp.2.500 per satu real
(pecahan uang yang mau diterima oleh pedagang tersebut adalah pecahan 100 rb dan 50 rb an)


Pedagang Kaki Lima

Hal lain yang dijumpai disini, Banyaknya burung merpati yang sengaja dipelihara oleh pemerintah setempat yang secara berkala dikasih pakan oleh petugas dan sebagian lagi diberi makan oleh pengunjung atau pendatang dgn membeli pakan dari pedagang yang diperbolehkan untuk menjual makanan burung tsb dgn harga satu real per bungkus

Halaman Luar Masjid Nabawi

Selain Masjid Nabawi yang berjarak sekitar 200 M, dari hotel tempat Saya menginap, Saya sempatkan juga untuk ziarah ke Makam Rasulullah Saw, di Ar Raudhah, kemudian juga ke Areal pemakaman Baqi, yang lokasinya kebetulan ada di seputaran Masjid Nabawi

Pemakaman  Para Syuhada di Baqi

Hari berikutnya, Saya dan rombongan mengunjungi Masjid Quba, Jabal Uhud, dan Kebun Kurma,  

Nah, yang unik dari pasar kurma yang jadi satu tempatnya dgn Kebun Kurma ini adalah,  “Bila kita tidak malu-malu in”, pengunjung diberi kebebasan untuk memakan kurma sepuasnya, asal kurmanya tidak dibawa keluar areal toko,
Saya termasuk salah satu diantara pengunjung toko yang memanfatkan kesempatan tersebut
Setelah membeli beberapa produk olahan berbahan kurma yang tidak dijumpai di Indonesia untuk cemilan dijalan Saya berputar kesudut lain pada toko tersebut

Sebagian besar pramuniaga yang menjaga dan melayani pengunjung toko adalah WNI dari Suku Jawa, Sehingga komunikasi dgn mereka menjadi terasa lebih lancar dan bersahabat 
Soalnya, bahasa arab yang Saya ketahui sangat sedikit sekali, misalnya, La untuk tidak, Na’am untuk Yes, dan Sukron untuk terimakasih, selebihnya Saya hanya menggunakan bahasa isyarat,  Anda pasti juga tahu, ternyata bahasa isyarat adalah bahasa universal yang sejak jaman batu dulu telah digunakan untuk menjalin komunikasi


Toko Penjual kurma olahan

Kebun kurma

Cara primitip ini sering Saya praktekkan dan ternyata bisa nyambung juga, seperti ketika Saya mau mengambil kunci kamar hotel di resepsionis, Saya hanya cukup memencet sejumlah nomer di kalkulator yang ada disitu, kemudian Saya sodorkan kepada petugas hotel dan mereka kemudian memberikan kunci hotel, (terbukti nyambung juga, khan)

Mereka juga umumnya tidak mengerti bahasa Indonesia, sedangkan bila mereka berbicara menggunakan Bahasa Inggeris,  Saya nya lagi yang tidak mengerti (bersambung)


Perjalanan (1) Banjarmasin-Jakarta-Jedah

Perjalanan (3) Mekah Al Mukaromah

Perjalanan (4) Pulang Kampung, Jedah ke Jakarta

Posting Komentar